Minggu, 09 Desember 2012
My Friend
Orang-orang yang bekerja keras hari ini dan memastikan bahwa yang dilakukannya hari ini pantas mendapat penghargaan di masa depan, akan bisa lebih senang nanti menyambut masa depan yang datang dengan kualitas yang lebih baik. ( MT Star Point )
Sabtu, 28 Januari 2012
USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT(Contoh Kasus Budidaya Rumput Laut di Teluk Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat)
I. Pengantar
Rumput laut merupakan salah satu
komoditi ekspor yang potensial untuk dikembangkan karena hasil olahannya
memiliki pasar yang sangat luas. Penggunaannya yang hampir tidak terbatas pada
saat terdapat trend baru dimana bahan
baku produk yang ramah lingkungan (environmentally
friendly) serta non-artifical
semakin memerlukan persyaratan untuk dapat dengan mudah memasuki pasar.
Di Maluku, potensi areal pengembangan rumput laut adalah
sebesar 206.000 Ha. Jenis-jenis rumput laut yang, merupakan potensi
perikanan dan kelautan provinsi Maluku terdiri dari jenis Euchema cottoni, K. striatum,
Hypnea, Gracillaria, Sargassum,
dan Phorpia. Saar ini jenis rumput laut yang baru dikembangkan untuk
usaha adalah Euchema sp. Produksi
rumput laut di provinsi Maluku dipasarkan masih dalam bentuk Raw Material
(Kering Asin) dengan sistem pemasaran Inter Insuler (antar pulau) dengan
kisaran harga Rp.3.000,- hingga Rp.4.000,-. Hasil produksi rumput laut Maluku
ditujukan ke pasaran ekspor namun sampai kini masih melalui rantai perdagangan
panjang untuk diantarpulaukan. Berbagai upaya terns dilakukan untuk perbaikan
produk akhir rumput laut diantaranya, perubahan produk dari kering asin ke
kering tawar, memproduksi bahan jadi (tepung karaginan) dan memproduksi bahan
setengath jadi (chips). Saar ini
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku telah mempersiapkan lahan untuk
dimanfaatkan dalam pengembangan Budidava Laut Euchema cottoni/K. Alvareszy,
sejak 2005 sampai 2009.
Mengaitkan data potensi dan data
unit usaha, produksi dan nilai perikanan budidaya di Provinsi Maluku tergambar
bahwa secara keseluruhan budidaya laut di Maluku masih “tertidur” sehingga
perlu “dibangunkan”. Dikaitkan dengan upaya penghapusan kemiskinan dan pengangguran,
idelanya kegiatan budidaya laut di Maluku berorientasi pada penyerapan tenaga
kerja secara massal, teknik dan teknologinya mudah dikuasai, modalnya
terjangkau, pengembalian modal cepat dan usahanya berkelanjutan.
II. Analisis Struktur Usaha Budidaya Rumput Laut .
Sebelum membahas analisis
struktur usaha dengan menggunakan strategi dari Michael Porter, terlebih dahulu
kita mengetahui potensi dan kondisi budidaya di Teluk Kotania, Kabupaten Seram
Bagian Barat, sebagai berikut ini.
a.
Budidaya
Rumput Laut di Teluk Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Teluk Kotania, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat
terletak pada posisi 2o58’00’’ – 3o04’00’’ lintang
selatan dan 128o00’00’’ – 128o08’00’’ bujur timur. Ada 5
pulau kecil yang berada di Teluk ini, yaitu pulau Marsegu, pulau Osi, pulau
Buntal dan pulau Tatumbu. Terdapat pula 8 buah desa disekitar wilayah pesisir
teluk ini, yakni desa pulau Osi, desa Kotania, desa Wael, desa Loupessi, desa
Taman Jaya, desa Masika jaya, desa Pelita Jaya dan desa Pohon batu. Pada
umumnya penduduk di wilayah pesisir Kotania adalah suku Buton (Sulawesi
Tenggara), mayoritas beragama islam dengan mata pencaharian sebagai nelayan dan
petani, dan memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah.
Wilayah Teluk Kotania terdiri
atas 4 kategori ekosistem, yaitu laut, perairan dangkal (padang lamun, terumbu
karang, gosong pasir), hutan bakau, dan hutan daratan tinggi. Informasi hasil
penelitian rumput laut menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis rumput laut (marco algae) yang terdiri dari 15 jenis
algae merah, 14 jenis algae hijau, da 5 jenis algae coklat. Algae jenis Glacilaria sp mendominasi lokasi ini
dengan kepadatan 994gram/m2. Berdasarkan perhitungan luas daerah
yang ditumbuhi algae adalah 40 ha, sehingga dapat diduga potensi Glacilaria dapat mencapai 398 ton di
lokasi tersebut. Jenis lainnya yang mempunyai nilai ekonomis walaupun tidak
besar adalah Hypnea sp dengan
kepadatan 41 gram/m2 atau memiliki potensi sebesar 16,5 ton. Di
pulau Osi didapatkan 13 jenis algae yang mewakili 5 jenis algae merah, 4 jenis
algae hijau dan 4 jenis algae coklat, sedangkan di sekitar desa Kotania
ditemukan 12 jenis algae yang mewakili 4 jenis algae merah dan 8 jenis algae
hijau.
Usaha budidaya algae telah
dilakukan oleh penduduk setempat dengan jenis yang dibudidayakan adalah Kappaphycus striatum. Walaupun usaha
budidaya tersebut berhasil, tetapi tampaknya pembudidaya kurang mengetahui
pemasaran atau kemungkinan harga jual rumput laur terlalu rendah hingga
kedapatan bahwa budidaya diletakan begitu saja di sebuag gudang yang terletak
di pulau Osi. Untuk mengetahui gambaran umum usaha budidaya rumput laut di
Teluk Kotania, dapat diperoleh dari gambaran umum budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di Maluku seluas
1 ha (10.000 m) yang disajikan pada Tabel, berikut ini.
Tabel
1. Analisis Usaha Rumput Laut Metode Long
Line Per Siklus Tanam (1 Ha)
|
No.
|
Jenis Pekerjaan
|
Ukuran
|
Volume
|
Harga (Rp)
|
Jumlah Harga (Rp)
|
|
A.
|
Biaya Investasi :
|
|
|
|
|
|
1.
|
Alat :
|
|
|
|
|
|
|
1.
Tali long line
|
5 mm
|
1.000 m
|
1.300,00
|
1.300.000,00
|
|
|
2.
Tali jangkar
|
6 mm
|
750 m
|
1.500,00
|
1.125.000,00
|
|
|
3.
Tali pelampung utama
|
6 mm
|
50 m
|
1.500,00
|
750.000,00
|
|
|
4.
Tali bibit
|
3 mm
|
1.790 m
|
500,00
|
895.000,00
|
|
|
5.
Tali pelampung batu
|
2 mm
|
500 m
|
300,00
|
150.000,00
|
|
|
6.
Pelampung utama
|
20 cm
|
50 buah
|
17.000,00
|
850.000,00
|
|
|
7.
Pelampung bantu
|
1.500 ml
|
490 buah
|
500,00
|
245.000,00
|
|
|
8.
Pelampung bantu
|
500 ml
|
490 buah
|
300,00
|
147.000,00
|
|
|
9.
Jangkar beton palang
|
12 kg
|
10 buah
|
20.000,00
|
200.000,00
|
|
|
10.
Jangkar beton tancap
|
25 kg
|
20 buah
|
40.000,00
|
800.000,00
|
|
2.
|
Sarana Penunjang:
|
|
|
|
|
|
|
1.
Gunting
|
Sedang
|
5 buah
|
10.000,00
|
50.000,00
|
|
|
2.
Wadah panen
|
|
6 buah
|
75.000,00
|
450.000,00
|
|
|
3.
Sampan/perahu
|
2 orang
|
1 unit
|
750.000,00
|
750.000,00
|
|
3.
|
Para Para Tancap
|
6 x 8 m
|
3 unit
|
450.000,00
|
1.350.000,00
|
|
Total Biaya Invetasi:
|
9.062.000,00
|
||||
|
B.
|
Biaya Operasional:
|
|
|
|
|
|
1.
|
Bibit
|
100 gr
|
3.900 kg
|
2.500
|
9.750.000,00
|
|
2.
|
Upah tenaga kerja
|
|
2 orang
|
2.500.000
|
5.000.000,00
|
|
3.
|
Pengepakan/karung
|
|
460 buah
|
1.500,00
|
690.000,00
|
|
4.
|
Pemasaran
|
|
6 kali
|
500.000,00
|
3.000.000,00
|
|
Total Biaya Operasional:
|
18.440.000,00
|
||||
|
C.
|
Biaya Tetap:
|
|
|
|
|
|
1.
|
Penyusutan
|
|
1 paket
|
339.000,00
|
452.000,00
|
|
2.
|
Perbaikan/perawatan
|
|
1 paket
|
125.000,00
|
170.000,00
|
|
Total Biaya Tetap:
|
662.000,00
|
||||
|
D.
|
Penerimaan:
|
|
|
|
|
|
1.
|
Bibit
|
|
3.900 kg
|
2.500,00
|
9.750.000,00
|
|
2.
|
Rumput laut kering
|
|
4.387 kg
|
3.500,00
|
15.354.500,00
|
|
Total Penerimaan:
|
25.104.500,00
|
||||
|
Total Pendapatan Per Siklus
Tanam (45 Hari) adalah sebesar {D – (B +C)}:
|
6.002.500,00
|
||||
Sumber : Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi Maluku,
2008.
b.
Analisis
Struktur Usaha
Analisis
struktur usaha dapat di lakukan dengan konsep porter’s diamond. Berlian
ini terdiri atas: hambatan masuk (Entry
Barriers), faktor kekuatan pemasok (determinants
of supplier power), faktor kekuatan pembeli (determinants
of buyer power), faktor ancaman produk pengganti (determinants
of subtitution threat), dan faktor pesaing (rivalry determinants). Lima
kekuatan kompetisi ini menentukan aturan main dalam kompetisi usaha. Berikut
ini adalah penjelasannya:
1. Hambatan
Masuk (Entry Barriers)
Bukan hanya usaha budidaya rumput laut di lokasi lain (pesaing) yang
menimbulkan ancaman bagi usaha budidaya di Teluk Kotania, dalam industri yang
kemungkinan bahwa usaha baru dapat memasuki industri juga akan mempengaruhi
persaingan. Dalam teori, setiap perusahaan harus dapat masuk dan keluar pasar, namun
dalam kenyataannya, industri memiliki karakteristik yang melindungi tinggi
tingkat keuntungan usaha dalam pasar dan menghambat tambahan saingan memasuki
pasar.
Untuk menentukan apakah suatu usaha budidaya rumput laut memiliki hambatan masuk dalam industri
budidaya rumput laut maka dapat ditentukan dengan melihat kriteria yang
ditunjukkan pada Tabel 2 berikut ini. Berdasarkan kriterianya, maka dapat
disimpulkan bahwa usaha budidaya rumput yang ingin masuk kedalam industri
budidaya rumput laut di propinsi Maluku masuk dalam kategori “Mudah Masuk” dan
juga “Mudah Keluar”.
Tabel 2. Kriteria
Masuk-Keluar Industri
|
Mudah Masuk
|
Sulit Masuk
|
|
o Teknologi biasa
|
o Dipatenkan atau
keterampilan kepemilikan (Teknologi tinggi)
|
|
o Hak merek kurang
|
o Kesulitan dalam
peralihan merek
|
|
o Akses ke saluran
distribusi
|
o Pembatasan saluran
distribusi
|
|
Mudah Keluar
|
Sulit Untuk Keluar
|
|
o Aset laku
|
o Aset khusus
|
|
o Biaya keluar rendah
|
o Biaya keluar tinggi
|
|
o Usaha mandiri
|
o Kelompok Bisnis
|
Mudah
masuk dikarenakan teknologi yang digunakan untuk budidaya rumput laut tergolong
sederhana dan tradisional. Kemudian hak merek dagang kurang dan akses saluran
distribusi terbuka (tidak ada pembatasan). Walaupun memang terdapat kesulitan
dalam pemasaran dikarenakan masih melalui rantai perdagangan antar daerah
(antar pulau). Kemudian mudah keluar dikarenakan, aset budidaya (barang-barang
investasi/modal/produksi) tergolong murah dan akan laku jika dijual, umumnya usaha
budidaya merupakan usaha mandiri, dan biaya keluar usaha cukup rendah. Selain
itu kebijakan pemerintah Propinsi Maluku yang sangat gencar mempromosikan
investasi di bidang budidaya rumput laut, dan juga Dinas Perikanan dan Kelautan
Propinsi Maluku yang telah mempersiapkan lahan untuk dimanfaatkan dalam
pengembangan budidaya rumput laut sejak tahuan 2005 hingga tahun 2009, maka
dengan kebijakan ini memudahkan masuknya usaha budidaya rumput laut di industri
budidaya rumput di Propinsi Maluku.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa hambatan untuk masuk ke dalam industri budidaya rumput di
Propinsi Maluku cukup mudah. Kondisi ini dapat berdampak pada keuntungan usaha
budidaya rumput laut di Teluk Kotania, dimana untuk jangka panjang keuntungan
usaha budidaya di Teluk Kotania relatif
akan tidak stabil (akan berubah). Dengan asumsi bahwa, hambatan mengurangi laju
masuknya usaha baru, dengan demikian mempertahankan tingkat keuntungan bagi
mereka yang sudah dalam industri. Dari perspektif strategis, hambatan dapat
dibuat atau dieksploitasi untuk meningkatkan keunggulan kompetitif usaha.
Hambatan masuk timbul dari beberapa sumber:
a. Pemerintah
Walaupun
peran utama pemerintah di pasar adalah mempertahankan persaingan melalui
tindakan anti-trust, pemerintah juga membatasi persaingan melalui pemberian
monopoli dan melalui peraturan.
b. Paten dan pengetahuan hak
milik
Ide-ide
dan pengetahuan yang memberikan keunggulan kompetitif sebagai milik pribadi
ketika dipatenkan, mencegah orang lain dari menggunakan pengetahuan dan dengan
demikian menciptakan hambatan masuk.
c. Aset kekhususan
Aset
kekhususan adalah sejauh mana aset perusahaan dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan produk yang berbeda.
d. Skala ekonomis
usaha (internal)
Tingkat
efisiensi biaya produksi disebut sebagai skala efisiensi minimum (MES). Ini
adalah titik di mana biaya per unit untuk produksi minimal, yaitu biaya yang
paling efisien untuk tingkat produksi. Jika MES untuk perusahaan dalam industri
diketahui, maka kita dapat menentukan kebutuhan/jumlah pangsa pasar untuk biaya
masuk terendah atau biaya keseimbangan dengan pesaing.
2. Faktor
Kekuatan Pemasok (Determinants of Supplier
Power)
Sebuah usaha membutuhkan modal (dana), bahan baku, tenaga
kerja, dan peralatan lainnya (Rangkuti, 2008). Persyaratan ini mengarah kepada
hubungan antara pembeli-pemasok industri dan perusahaan-perusahaan yang
menyediakan bahan baku yang digunakan untuk membuat produk. Pemasok, jika kuat,
dapat berpengaruh pada produksi industri, seperti menjual bahan mentah dengan
harga tinggi untuk memperoleh keuntungan industri.
Dalam usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania,
terdapat tiga persyaratan penting yang berhubungan dengan pemasok, yakni modal
(dana), bibit rumput laut, dan tenaga kerja. Untuk menentukan kuat-lemahnya
pemasok dapat disimpulkan dengan melihat kriteria berikut ini (Tabel 3).
Tabel 3. Kriteria Kuat-Lemah
Pemasok
|
Pemasok Kuat
|
Pemasok Lemah
|
|
o
Industri
pemasok didominasi hanya oleh
sedikit perusahaan
|
o
Industri
pemasok didominasi oleh banyaknya
perusahaan
|
|
o
Produk
pemasok hanya memiliki sedikit pengganti/substitusi
|
o
Produk pemasok
memiliki banyak pengganti/substitusi
|
|
o
Pembeli
bukan merupakan pelanggan yang penting bagi pemasok
|
o
Pembeli
merupakan pelanggan yang penting bagi pemasok
|
|
o Produk pemasok merupakan input yang penting bagi produk pembeli
|
o Produk pemasok merupakan input yang tidak/kurang penting bagi produk pembeli
|
|
o
Produk
pemasok didiferensiasikan (ada standarisasi produk)
|
o
Produk
pemasok tidak didiferensiasikan (tidak ada standarisasi produk)
|
|
o Produk pemasok memiliki “switching costs” yang tinggi
|
o Produk pemasok memiliki “switching costs” yang rendah
|
|
o Pemasok memiliki ancaman integrasi ke depan yang kuat
|
o Pemasok memiliki ancaman integrasi ke depan yang tidak kuat
|
Pemasok modal (dana) untuk usaha
budidaya rumput laut tidak terlalu sulit dikarenakan tawaran instrimen dana cukup luas
untuk usaha budidaya rumput laut. Misalnya program dari Bank Indonesia yang
mendorong pendanaan budidaya rumput laut. Hanya saja yang bisa menjadi masalah
adalah tingkat suku bunga yang dapat berpengaruh pada pengembalian pinjaman
dana. Sedangkan untuk bibit rumput laut dan tenaga kerja dalam rangka usaha rumput laut tidak menjadi
permasalahan mengingat bibit yang tersedia di alam sangat besar populasinya dan
tersedia dalam jumlah yang besar. Kemudian untuk tenaga kerja, ketersediaannya
cukup banyak, dimana untuk ukuran 1 ha budidaya rumput laut dapat menggunakan dua
orang tenaga kerja. Menurut Wijaya (2001), tenaga kerja pemula dibidang usaha
budidaya rumput laut jumlahnya cukup banyak, namun untuk mencari tenaga kerja
yang terlatih relatif masih sedikit.
Dengan dimikian dapat
disimpulkan bahwa pemasok usaha budidaya rumput laut memiliki kekuatan yang
lemah. Artinya faktor-faktor produksi berupa modal, bibit, dan tenaga kerja
dapat diperoleh dengan mudah atau tidak tergantung pada usaha penyedianya,
sehingga akses akan pemenuhan akan faktor produksi sangat luas hingga
meminimalkan biaya produksi dan keutungan usaha dapat dimaksimalkan.
3. Faktor
Kekuatan Pembeli (Determinants of Buyer Power)
Pembeli atau pelanggan komoditi rumput laut di Teluk
Kotania dapat dibagi atas masyarakat dan swasta (pengusaha pengolah rumput
laut). Kekuatan pembeli adalah pelanggan yang memiliki pengaruh pada produksi
industri. Secara umum, ketika daya pembeli kuat, hubungan produksi demikian
dekat dengan apa istilah monopsoni, yakni
sebuah pasar di mana terdapat banyak pemasok dan satu pembeli. Dalam pasar
seperti ini, pembeli menetapkan harga.
Analisis
kekuatan pembeli dengan kriteria (Tabel 4) menunjukkan bahwa pembeli
atau pelanggan pada usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania berada pada
mampu membeli hasil produksi dengan jumlah yang besar, dan juga produk rumput
laut yang dimiliki tidak distandarisasi. Sehingga cenderung usaha di Teluk
Kotania sangat tergantung pada pembeli/pelanggan. Menurut Dirjen
Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), salah satu kendala bagi para
petani dan nelayan rumput laut adalah pasar. Karena pasar tak tersedia, maka
harga jual rumput laut menjadi murah. dan kadang tidak sebanding dengan jerih payah
nelayan (Jawa Pos, 2009).
Tabel 4. Kriteria Kuat-Lemah
Pembeli
|
Pembeli Kuat
|
Pembeli Lemah
|
|
o Pembeli mempunyai pangsa yang besar dalam total produksi industri
|
o Pembeli mempunyai pangsa yang kecil dalam total produksi industri
|
|
o Produk tidak didiferensiasi (tidak ada standardisasi produk)
|
o Produk didiferensiasi (ada standardisasi produk)
|
|
o Pembeli hanya menghadapi switching costs yang kecil
|
o Pembeli menghadapi switching costs yang besar
|
Dengan demikian pembeli
hasil produksi usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania memiliki posisi yang
kuat. Hal ini dapat berpengaruh pada usaha budidaya dimana pembeli dapat dengan
mudah mempengaruhi (menurunkan/menaikan) harga produk rumput laut, yang dapat
berujung pada ketidak stabilan harga, dan dapat mempengaruhi keuntungan usaha budidaya.
4. Faktor Ancaman Produk Pengganti (Determinants of Subtitution Threat)
Dalam model Porter, produk pengganti merujuk untuk
produk dalam industri lain atau produk substitusi di luar suatu industri dengan fungsi yang sama. Produksi
rumput laut di Maluku dan khususnya di usaha budidaya rumput laut Teluk Kotania
adalah dalam bentuk raw material (rumput laut kering asin). Produk ini kemudian
berfungsi sebagai bahan tambahan pada industri makanan, obat-obatan, dan
kosmetika.
Jika produksi masih dalam bentuk raw material (rumput laut kering asin)
berarti tidak memiliki produk pengganti bagi industri peminat rumput laut.
Sehingga dapat dikatakan bahwa produk rumput laut dalam bentuk raw material
memiliki posisi yang kuat. Namun jika dilihat fungsinya lebih jauh, misalnya
untuk industri makanan, obat-obatan, dan kosmetika, maka produk rumput laut
dalam bentuk raw material memiliki ancaman dari produk pengganti yang sangat banyak.
Hal ini kemudian akan melemahkan produk rumput laut.
Lebih jauh lagi dalam ekonomi, ancaman substitusi terjadi ketika permintaan suatu
produk terpengaruh oleh perubahan harga dari produk pengganti. Elastisitas harga
produk dipengaruhi oleh produk pengganti, permintaan menjadi lebih elastis
karena pelanggan memiliki lebih alternatif. Sebuah produk pengganti membatasi
kemampuan perusahaan dalam industri untuk menaikkan harga. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa produk rumput laut sangat dipengaruhi oleh faktor ancaman
produk pengganti, mengingat dalam industri makanan, obat-obatan, dan komestik memiliki
variasi produk yang cukup banyak.
5. Faktor
Pesaing (Rivalry Determinants)
Merujuk pada jumlah usaha budidaya
rumput laut sebagai pesaing bagi usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania,
maka secara umum dalam lingkung region
(daerah) propinsi Maluku terdapat lima usaha budidaya rumput laut lainnya (BKPMD Propinsi Maluku, 2009), yakni: usaha budidaya rumput laut di Pulau Wamar
(Kabupaten Kepulauan Aru), usaha budidaya rumput laut di Kei Kecil (Kabupaten
Maluku Tenggara), usaha budidaya rumput laut di Teluk Tuhaha (Kabupaten Maluku
Tengah), usaha budidaya rumput laut di Saumlaki (Maluku Tenggara Barat), dan
usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Seram Bagian Timur. Lima usaha budidaya
ini secara langsung menjadi pesaing bagi usaha budidaya rumput laut di Teluk
Kotania, namun sejauh mana tingkat atau intensitas persaingan antar usaha ini
dapat ditunjukkan dari kriteria tajam tidaknya persaingan usaha pada Tabel 5
berikut ini.
Tabel 5. Kriteria Tajam
Tidaknya Persaingan
|
Persaingan Tajam
|
Persaingan Tidak Tajam
|
|
o
Banyak
kompetitor yang seimbang
|
o
Tidak Banyak
kompetitor yang seimbang
|
|
o
Pertumbuhan
Industri lambat
|
o
Pertumbuhan
Industri cepat
|
|
o
Biaya tetap yang tinggi
|
o
Rendahnya
Biaya tetap
|
|
o
Kurang diferensiasi atau switching costs
|
o
Tingginya
diferensiasi atau switching
costs
|
|
o
Biaya
penyimpanan tinggi
|
o
Biaya
penyimpanan yang rendah
|
|
o
Penambahan
kapasitas yang besar
|
o
Penambahan
kapasitas yang wajar
|
|
o
Resiko strategis
yang tinggi
|
o
Resiko strategis
yang wajar
|
|
o
Halangan
keluar yang tinggi
|
o
Halangan
keluar yang rendah
|
|
o
Pesaing
yang beraneka macam
|
o
Pesaing
yang tidak beraneka macam
|
Berdasarkan
Tabel 5 di atas, terlihat bahwa terdapat lima usaha yang menjadi kompetitor
yang seimbang dalam usaha budidaya rumput laut di propinsi Maluku. Jumlah ini
dapat dikatakan relatif masih sedikit guna terbentuknya persaingan yang tajam
dalam usaha tersebut. Kemudian dari sembilan kriteria yang ada, kriteria
rendahnya biaya tetap, biaya penyimpanan yang rendah, halangan keluar yang
rendah dan persaingan yang tidak beraneka ragam menuju pada kesimpulan bahwa
usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat
memiliki tingkat persaingan yang tidak terlalu tajam. Lebih jauh lagi rivalitas yang kuat sering terjadi dengan
jalan : menjaga posisi strategis, menggunakan kompetisi harga, melancarkan
perang iklan, membuat perkenalan produk baru, dan meningkatkan
jaminan/pelayanan pelanggan.
III. Penutup
Berdasarkan
analisis di atas dapat dikatakan bahwa usaha budidaya rumput laut di Teluk
Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat mempunyai daya tarik yang cukup bagus.
Untuk tetap tumbuh dan berkembang, usaha ini harus mampu memperhatikan:
1. Faktor kekuatan pembeli, dan
2. Faktor ancaman produk pengganti
PUSTAKA
BKMD
Propinsi Maluku, 2009. Rumput Laut. http://www.bkpmd-maluku.com/
Dinas
Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, 2008. Potensi dan Peluang Usaha
Budidaya Rumput Laut di Provinsi Maluku. Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
Maluku, Ambon.
Mudrajad, K., 2003.
Lingkungan Eksternal: Peluang, Tantangan, Kompetisi Industri, dan Analisis
Pesaing. http://www.mudrajad.com/
Rangkuti, F., 2008. Analisis SWOT Teknik
Memberdah Kasusu Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Wijaya, S., 2001. Strategi Pengembangan
Budidaya rumput Laut. Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial ekonoomi
Kelautan dan Perikanan Badan riset Kelatan dan Perikanan, Departemen Kelautan
dan Perikanan, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
