Minggu, 09 Desember 2012

My Friend


Orang-orang yang bekerja keras hari ini dan memastikan bahwa yang dilakukannya hari ini pantas mendapat penghargaan di masa depan, akan bisa lebih senang nanti menyambut masa depan yang datang dengan kualitas yang lebih baik. ( MT Star Point )

Sabtu, 28 Januari 2012

USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT(Contoh Kasus Budidaya Rumput Laut di Teluk Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat)


I. Pengantar
            Rumput laut merupakan salah satu komoditi ekspor yang potensial untuk dikembangkan karena hasil olahannya memiliki pasar yang sangat luas. Penggunaannya yang hampir tidak terbatas pada saat terdapat trend baru dimana bahan baku produk yang ramah lingkungan (environmentally friendly) serta non-artifical semakin memerlukan persyaratan untuk dapat dengan mudah memasuki pasar.
Di Maluku, potensi areal pengembangan rumput laut adalah sebesar 206.000 Ha. Jenis-jenis rumput laut yang, merupakan potensi perikanan dan kelautan provinsi Maluku terdiri dari jenis Euchema cottoni, K. striatum, Hypnea, Gracillaria, Sargassum, dan Phorpia. Saar ini jenis rumput laut yang baru dikembangkan untuk usaha adalah Euchema sp. Produksi rumput laut di provinsi Maluku dipasarkan masih dalam bentuk Raw Material (Kering Asin) dengan sistem pemasaran Inter Insuler (antar pulau) dengan kisaran harga Rp.3.000,- hingga Rp.4.000,-. Hasil produksi rumput laut Maluku ditujukan ke pasaran ekspor namun sampai kini masih melalui rantai perdagangan panjang untuk diantar­pulaukan. Berbagai upaya terns dilakukan untuk perbaikan produk akhir rumput laut diantaranya, perubahan produk dari kering asin ke kering tawar, memproduksi bahan jadi (tepung karaginan) dan memproduksi bahan setengath jadi (chips). Saar ini Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku telah mempersiapkan lahan untuk dimanfaatkan dalam pengembangan Budidava Laut Euchema cottoni/K. Alvareszy, sejak 2005 sampai 2009.
Mengaitkan data potensi dan data unit usaha, produksi dan nilai perikanan budidaya di Provinsi Maluku tergambar bahwa secara keseluruhan budidaya laut di Maluku masih “tertidur” sehingga perlu “dibangunkan”. Dikaitkan dengan upaya penghapusan kemiskinan dan pengangguran, idelanya kegiatan budidaya laut di Maluku berorientasi pada penyerapan tenaga kerja secara massal, teknik dan teknologinya mudah dikuasai, modalnya terjangkau, pengembalian modal cepat dan usahanya berkelanjutan.

II. Analisis Struktur Usaha Budidaya Rumput Laut .

Sebelum membahas analisis struktur usaha dengan menggunakan strategi dari Michael Porter, terlebih dahulu kita mengetahui potensi dan kondisi budidaya di Teluk Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai berikut ini.
a.      Budidaya Rumput Laut di Teluk Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Teluk Kotania, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat terletak pada posisi 2o58’00’’ – 3o04’00’’ lintang selatan dan 128o00’00’’ – 128o08’00’’ bujur timur. Ada 5 pulau kecil yang berada di Teluk ini, yaitu pulau Marsegu, pulau Osi, pulau Buntal dan pulau Tatumbu. Terdapat pula 8 buah desa disekitar wilayah pesisir teluk ini, yakni desa pulau Osi, desa Kotania, desa Wael, desa Loupessi, desa Taman Jaya, desa Masika jaya, desa Pelita Jaya dan desa Pohon batu. Pada umumnya penduduk di wilayah pesisir Kotania adalah suku Buton (Sulawesi Tenggara), mayoritas beragama islam dengan mata pencaharian sebagai nelayan dan petani, dan memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah.
Wilayah Teluk Kotania terdiri atas 4 kategori ekosistem, yaitu laut, perairan dangkal (padang lamun, terumbu karang, gosong pasir), hutan bakau, dan hutan daratan tinggi. Informasi hasil penelitian rumput laut menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis rumput laut (marco algae) yang terdiri dari 15 jenis algae merah, 14 jenis algae hijau, da 5 jenis algae coklat. Algae jenis Glacilaria sp mendominasi lokasi ini dengan kepadatan 994gram/m2. Berdasarkan perhitungan luas daerah yang ditumbuhi algae adalah 40 ha, sehingga dapat diduga potensi Glacilaria dapat mencapai 398 ton di lokasi tersebut. Jenis lainnya yang mempunyai nilai ekonomis walaupun tidak besar adalah Hypnea sp dengan kepadatan 41 gram/m2 atau memiliki potensi sebesar 16,5 ton. Di pulau Osi didapatkan 13 jenis algae yang mewakili 5 jenis algae merah, 4 jenis algae hijau dan 4 jenis algae coklat, sedangkan di sekitar desa Kotania ditemukan 12 jenis algae yang mewakili 4 jenis algae merah dan 8 jenis algae hijau.
Usaha budidaya algae telah dilakukan oleh penduduk setempat dengan jenis yang dibudidayakan adalah Kappaphycus striatum. Walaupun usaha budidaya tersebut berhasil, tetapi tampaknya pembudidaya kurang mengetahui pemasaran atau kemungkinan harga jual rumput laur terlalu rendah hingga kedapatan bahwa budidaya diletakan begitu saja di sebuag gudang yang terletak di pulau Osi. Untuk mengetahui gambaran umum usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania, dapat diperoleh dari gambaran umum budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di Maluku seluas 1 ha (10.000 m) yang disajikan pada Tabel, berikut ini.
Tabel 1. Analisis Usaha Rumput Laut Metode Long Line Per Siklus Tanam (1 Ha)
No.
Jenis Pekerjaan
Ukuran
Volume
Harga (Rp)
Jumlah Harga (Rp)
A.
Biaya Investasi :




1.
Alat :





1.       Tali long line
5 mm
1.000 m
1.300,00
1.300.000,00

2.       Tali jangkar
6 mm
750 m
1.500,00
1.125.000,00

3.       Tali pelampung utama
6 mm
50 m
1.500,00
750.000,00

4.       Tali bibit
3 mm
1.790 m
500,00
895.000,00

5.       Tali pelampung batu
2 mm
500 m
300,00
150.000,00

6.       Pelampung utama
20 cm
50 buah
17.000,00
850.000,00

7.       Pelampung bantu
1.500 ml
490 buah
500,00
245.000,00

8.       Pelampung bantu
500 ml
490 buah
300,00
147.000,00

9.       Jangkar beton palang
12 kg
10 buah
20.000,00
200.000,00

10.   Jangkar beton tancap
25 kg
20 buah
40.000,00
800.000,00
2.
Sarana Penunjang:





1.       Gunting
Sedang
5 buah
10.000,00
50.000,00

2.       Wadah panen

6 buah
75.000,00
450.000,00

3.       Sampan/perahu
2 orang
1 unit
750.000,00
750.000,00
3.
Para Para Tancap
6 x 8 m
3 unit
450.000,00
1.350.000,00
Total Biaya Invetasi:
9.062.000,00
B.
Biaya Operasional:




1.
Bibit
100 gr
3.900 kg
2.500
9.750.000,00
2.
Upah tenaga kerja

2 orang
2.500.000
5.000.000,00
3.
Pengepakan/karung

460 buah
1.500,00
690.000,00
4.
Pemasaran

6 kali
500.000,00
3.000.000,00
Total Biaya Operasional:
18.440.000,00
C.
Biaya Tetap:




1.
Penyusutan

1 paket
339.000,00
452.000,00
2.
Perbaikan/perawatan

1 paket
125.000,00
170.000,00
Total Biaya Tetap:
662.000,00
D.
Penerimaan:




1.
Bibit

3.900 kg
2.500,00
9.750.000,00
2.
Rumput laut kering

4.387 kg
3.500,00
15.354.500,00
Total Penerimaan:
25.104.500,00
Total Pendapatan Per Siklus Tanam (45 Hari) adalah sebesar {D – (B +C)}:
6.002.500,00
Sumber : Dinas Perikanan Dan Kelautan Provinsi Maluku, 2008.

b.      Analisis Struktur Usaha
Analisis struktur usaha dapat di lakukan dengan konsep porter’s diamond. Berlian ini terdiri atas: hambatan masuk (Entry Barriers), faktor kekuatan pemasok (determinants of supplier power), faktor kekuatan pembeli (determinants of buyer power), faktor ancaman produk pengganti (determinants of subtitution threat), dan faktor pesaing (rivalry determinants). Lima kekuatan kompetisi ini menentukan aturan main dalam kompetisi usaha. Berikut ini adalah penjelasannya:
1.      Hambatan Masuk (Entry Barriers)
Bukan hanya usaha budidaya rumput laut di lokasi lain (pesaing) yang menimbulkan ancaman bagi usaha budidaya di Teluk Kotania, dalam industri yang kemungkinan bahwa usaha baru dapat memasuki industri juga akan mempengaruhi persaingan. Dalam teori, setiap perusahaan harus dapat masuk dan keluar pasar, namun dalam kenyataannya, industri memiliki karakteristik yang melindungi tinggi tingkat keuntungan usaha dalam pasar dan menghambat tambahan saingan memasuki pasar. 
Untuk menentukan apakah suatu usaha budidaya rumput laut  memiliki hambatan masuk dalam industri budidaya rumput laut maka dapat ditentukan dengan melihat kriteria yang ditunjukkan pada Tabel 2 berikut ini. Berdasarkan kriterianya, maka dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya rumput yang ingin masuk kedalam industri budidaya rumput laut di propinsi Maluku masuk dalam kategori “Mudah Masuk” dan juga “Mudah Keluar”.
Tabel 2. Kriteria Masuk-Keluar Industri
Mudah Masuk
Sulit Masuk
o   Teknologi biasa
o   Dipatenkan atau keterampilan kepemilikan (Teknologi tinggi)
o   Hak merek kurang
o   Kesulitan dalam peralihan merek
o   Akses ke saluran distribusi
o   Pembatasan saluran distribusi
Mudah Keluar
Sulit Untuk Keluar
o   Aset laku
o   Aset khusus
o   Biaya keluar rendah
o   Biaya keluar tinggi
o   Usaha mandiri
o   Kelompok Bisnis

            Mudah masuk dikarenakan teknologi yang digunakan untuk budidaya rumput laut tergolong sederhana dan tradisional. Kemudian hak merek dagang kurang dan akses saluran distribusi terbuka (tidak ada pembatasan). Walaupun memang terdapat kesulitan dalam pemasaran dikarenakan masih melalui rantai perdagangan antar daerah (antar pulau). Kemudian mudah keluar dikarenakan, aset budidaya (barang-barang investasi/modal/produksi) tergolong murah dan akan laku jika dijual, umumnya usaha budidaya merupakan usaha mandiri, dan biaya keluar usaha cukup rendah. Selain itu kebijakan pemerintah Propinsi Maluku yang sangat gencar mempromosikan investasi di bidang budidaya rumput laut, dan juga Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Maluku yang telah mempersiapkan lahan untuk dimanfaatkan dalam pengembangan budidaya rumput laut sejak tahuan 2005 hingga tahun 2009, maka dengan kebijakan ini memudahkan masuknya usaha budidaya rumput laut di industri budidaya rumput di Propinsi Maluku.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hambatan untuk masuk ke dalam industri budidaya rumput di Propinsi Maluku cukup mudah. Kondisi ini dapat berdampak pada keuntungan usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania, dimana untuk jangka panjang keuntungan usaha  budidaya di Teluk Kotania relatif akan tidak stabil (akan berubah). Dengan asumsi bahwa, hambatan mengurangi laju masuknya usaha baru, dengan demikian mempertahankan tingkat keuntungan bagi mereka yang sudah dalam industri. Dari perspektif strategis, hambatan dapat dibuat atau dieksploitasi untuk meningkatkan keunggulan kompetitif usaha. Hambatan masuk timbul dari beberapa sumber:
a.      Pemerintah
Walaupun peran utama pemerintah di pasar adalah mempertahankan persaingan melalui tindakan anti-trust, pemerintah juga membatasi persaingan melalui pemberian monopoli dan melalui peraturan.
b.      Paten dan pengetahuan hak milik
Ide-ide dan pengetahuan yang memberikan keunggulan kompetitif sebagai milik pribadi ketika dipatenkan, mencegah orang lain dari menggunakan pengetahuan dan dengan demikian menciptakan hambatan masuk.
c.       Aset kekhususan
Aset kekhususan adalah sejauh mana aset perusahaan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang berbeda.
d.      Skala ekonomis usaha (internal)
Tingkat efisiensi biaya produksi disebut sebagai skala efisiensi minimum (MES). Ini adalah titik di mana biaya per unit untuk produksi minimal, yaitu biaya yang paling efisien untuk tingkat produksi. Jika MES untuk perusahaan dalam industri diketahui, maka kita dapat menentukan kebutuhan/jumlah pangsa pasar untuk biaya masuk terendah atau biaya keseimbangan dengan pesaing.
2.      Faktor Kekuatan Pemasok (Determinants of Supplier Power)
Sebuah usaha membutuhkan modal (dana), bahan baku, tenaga kerja, dan peralatan lainnya (Rangkuti, 2008). Persyaratan ini mengarah kepada hubungan antara pembeli-pemasok industri dan perusahaan-perusahaan yang menyediakan bahan baku yang digunakan untuk membuat produk. Pemasok, jika kuat, dapat berpengaruh pada produksi industri, seperti menjual bahan mentah dengan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan industri.
Dalam usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania, terdapat tiga persyaratan penting yang berhubungan dengan pemasok, yakni modal (dana), bibit rumput laut, dan tenaga kerja. Untuk menentukan kuat-lemahnya pemasok dapat disimpulkan dengan melihat kriteria berikut ini (Tabel 3).
Tabel 3. Kriteria Kuat-Lemah Pemasok
Pemasok Kuat
Pemasok Lemah
o   Industri pemasok didominasi hanya oleh sedikit perusahaan 
o   Industri pemasok didominasi oleh banyaknya perusahaan 
o   Produk pemasok hanya memiliki sedikit pengganti/substitusi 
o   Produk pemasok memiliki banyak pengganti/substitusi 
o   Pembeli bukan merupakan pelanggan yang penting bagi pemasok 
o   Pembeli merupakan pelanggan yang penting bagi pemasok 
o   Produk pemasok merupakan input yang penting bagi produk pembeli
o   Produk pemasok merupakan input yang tidak/kurang penting bagi produk pembeli
o   Produk pemasok didiferensiasikan (ada standarisasi produk)
o   Produk pemasok tidak didiferensiasikan (tidak ada standarisasi produk)
o   Produk pemasok memiliki “switching costs” yang tinggi
o   Produk pemasok memiliki “switching costs” yang rendah
o   Pemasok memiliki ancaman integrasi ke depan yang kuat
o   Pemasok memiliki ancaman integrasi ke depan yang tidak kuat

Pemasok modal (dana) untuk usaha budidaya rumput laut tidak terlalu sulit  dikarenakan tawaran instrimen dana cukup luas untuk usaha budidaya rumput laut. Misalnya program dari Bank Indonesia yang mendorong pendanaan budidaya rumput laut. Hanya saja yang bisa menjadi masalah adalah tingkat suku bunga yang dapat berpengaruh pada pengembalian pinjaman dana. Sedangkan untuk bibit rumput laut dan tenaga kerja dalam rangka usaha rumput laut tidak menjadi permasalahan mengingat bibit yang tersedia di alam sangat besar populasinya dan tersedia dalam jumlah yang besar. Kemudian untuk tenaga kerja, ketersediaannya cukup banyak, dimana untuk ukuran 1 ha budidaya rumput laut dapat menggunakan dua orang tenaga kerja. Menurut Wijaya (2001), tenaga kerja pemula dibidang usaha budidaya rumput laut jumlahnya cukup banyak, namun untuk mencari tenaga kerja yang terlatih relatif masih sedikit.
            Dengan dimikian dapat disimpulkan bahwa pemasok usaha budidaya rumput laut memiliki kekuatan yang lemah. Artinya faktor-faktor produksi berupa modal, bibit, dan tenaga kerja dapat diperoleh dengan mudah atau tidak tergantung pada usaha penyedianya, sehingga akses akan pemenuhan akan faktor produksi sangat luas hingga meminimalkan biaya produksi dan keutungan usaha dapat dimaksimalkan.

3.      Faktor Kekuatan Pembeli (Determinants of Buyer Power)
Pembeli atau pelanggan komoditi rumput laut di Teluk Kotania dapat dibagi atas masyarakat dan swasta (pengusaha pengolah rumput laut). Kekuatan pembeli adalah pelanggan yang memiliki pengaruh pada produksi industri. Secara umum, ketika daya pembeli kuat, hubungan produksi demikian dekat dengan apa istilah monopsoni, yakni sebuah pasar di mana terdapat banyak pemasok dan satu pembeli. Dalam pasar seperti ini, pembeli menetapkan harga.
Analisis  kekuatan pembeli dengan kriteria (Tabel 4) menunjukkan bahwa pembeli atau pelanggan pada usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania berada pada mampu membeli hasil produksi dengan jumlah yang besar, dan juga produk rumput laut yang dimiliki tidak distandarisasi. Sehingga cenderung usaha di Teluk Kotania sangat tergantung pada pembeli/pelanggan. Menurut Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), salah satu kendala bagi para petani dan nelayan rumput laut adalah pasar. Karena pasar tak tersedia, maka harga jual rumput laut menjadi murah. dan kadang tidak sebanding dengan jerih payah nelayan (Jawa Pos, 2009).
Tabel 4. Kriteria Kuat-Lemah Pembeli
Pembeli Kuat
Pembeli Lemah
o    Pembeli mempunyai pangsa yang besar dalam total produksi industri
o    Pembeli mempunyai pangsa yang kecil dalam total produksi industri
o    Produk tidak didiferensiasi (tidak ada standardisasi produk)
o    Produk didiferensiasi (ada standardisasi produk)
o    Pembeli hanya menghadapi switching costs yang kecil
o    Pembeli menghadapi switching costs yang besar
            Dengan demikian pembeli hasil produksi usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania memiliki posisi yang kuat. Hal ini dapat berpengaruh pada usaha budidaya dimana pembeli dapat dengan mudah mempengaruhi (menurunkan/menaikan) harga produk rumput laut, yang dapat berujung pada ketidak stabilan harga, dan dapat mempengaruhi keuntungan usaha budidaya.

4.      Faktor Ancaman Produk Pengganti (Determinants of Subtitution Threat)
Dalam model Porter, produk pengganti merujuk untuk produk dalam industri lain atau produk substitusi di luar suatu industri dengan fungsi yang sama. Produksi rumput laut di Maluku dan khususnya di usaha budidaya rumput laut Teluk Kotania adalah dalam bentuk raw material (rumput laut kering asin). Produk ini kemudian berfungsi sebagai bahan tambahan pada industri makanan, obat-obatan, dan kosmetika.
Jika produksi masih dalam bentuk raw material (rumput laut kering asin) berarti tidak memiliki produk pengganti bagi industri peminat rumput laut. Sehingga dapat dikatakan bahwa produk rumput laut dalam bentuk raw material memiliki posisi yang kuat. Namun jika dilihat fungsinya lebih jauh, misalnya untuk industri makanan, obat-obatan, dan kosmetika, maka produk rumput laut dalam bentuk raw material memiliki ancaman dari produk pengganti yang sangat banyak. Hal ini kemudian akan melemahkan produk rumput laut.
Lebih jauh lagi dalam ekonomi, ancaman substitusi terjadi ketika permintaan suatu produk terpengaruh oleh perubahan harga dari produk pengganti. Elastisitas harga produk dipengaruhi oleh produk pengganti, permintaan menjadi lebih elastis karena pelanggan memiliki lebih alternatif. Sebuah produk pengganti membatasi kemampuan perusahaan dalam industri untuk menaikkan harga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produk rumput laut sangat dipengaruhi oleh faktor ancaman produk pengganti, mengingat dalam industri makanan, obat-obatan, dan komestik memiliki variasi produk yang cukup banyak.

5.      Faktor Pesaing (Rivalry Determinants)
Merujuk pada jumlah usaha budidaya rumput laut sebagai pesaing bagi usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania, maka secara umum dalam lingkung region (daerah) propinsi Maluku terdapat lima usaha budidaya rumput laut lainnya (BKPMD Propinsi Maluku, 2009), yakni:  usaha budidaya rumput laut di Pulau Wamar (Kabupaten Kepulauan Aru), usaha budidaya rumput laut di Kei Kecil (Kabupaten Maluku Tenggara), usaha budidaya rumput laut di Teluk Tuhaha (Kabupaten Maluku Tengah), usaha budidaya rumput laut di Saumlaki (Maluku Tenggara Barat), dan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Seram Bagian Timur. Lima usaha budidaya ini secara langsung menjadi pesaing bagi usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania, namun sejauh mana tingkat atau intensitas persaingan antar usaha ini dapat ditunjukkan dari kriteria tajam tidaknya persaingan usaha pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Kriteria Tajam Tidaknya Persaingan
Persaingan Tajam
Persaingan Tidak Tajam
o   Banyak kompetitor yang seimbang 
o   Tidak Banyak kompetitor yang seimbang 
o   Pertumbuhan Industri lambat 
o   Pertumbuhan Industri cepat 
o   Biaya tetap yang tinggi 
o   Rendahnya Biaya tetap
o   Kurang diferensiasi atau switching costs
o   Tingginya diferensiasi atau switching costs
o   Biaya penyimpanan tinggi 
o   Biaya penyimpanan yang rendah
o   Penambahan kapasitas yang besar 
o   Penambahan kapasitas yang wajar
o   Resiko strategis yang tinggi 
o   Resiko strategis yang wajar 
o   Halangan keluar yang tinggi 
o   Halangan keluar yang rendah
o   Pesaing yang beraneka macam
o   Pesaing yang tidak beraneka macam

            Berdasarkan Tabel 5 di atas, terlihat bahwa terdapat lima usaha yang menjadi kompetitor yang seimbang dalam usaha budidaya rumput laut di propinsi Maluku. Jumlah ini dapat dikatakan relatif masih sedikit guna terbentuknya persaingan yang tajam dalam usaha tersebut. Kemudian dari sembilan kriteria yang ada, kriteria rendahnya biaya tetap, biaya penyimpanan yang rendah, halangan keluar yang rendah dan persaingan yang tidak beraneka ragam menuju pada kesimpulan bahwa usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat memiliki tingkat persaingan yang tidak terlalu tajam. Lebih jauh lagi rivalitas yang kuat sering terjadi dengan jalan : menjaga posisi strategis, menggunakan kompetisi harga, melancarkan perang iklan, membuat perkenalan produk baru, dan meningkatkan jaminan/pelayanan pelanggan.


III. Penutup
            Berdasarkan analisis di atas dapat dikatakan bahwa usaha budidaya rumput laut di Teluk Kotania, Kabupaten Seram Bagian Barat mempunyai daya tarik yang cukup bagus. Untuk tetap tumbuh dan berkembang, usaha ini harus mampu memperhatikan:
1.      Faktor kekuatan pembeli, dan
2.      Faktor ancaman produk pengganti


PUSTAKA
BKMD Propinsi Maluku, 2009. Rumput Laut. http://www.bkpmd-maluku.com/
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, 2008. Potensi dan Peluang Usaha Budidaya Rumput Laut di Provinsi Maluku. Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, Ambon.   
Mudrajad, K., 2003. Lingkungan Eksternal: Peluang, Tantangan, Kompetisi Industri, dan Analisis Pesaing. http://www.mudrajad.com/
Rangkuti, F., 2008. Analisis SWOT Teknik Memberdah Kasusu Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Wijaya, S., 2001. Strategi Pengembangan Budidaya rumput Laut. Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial ekonoomi Kelautan dan Perikanan Badan riset Kelatan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.